BRMP Papua Barat Ikuti Pelatihan Rantai Nilai Mutu Benih, Perluas Ruang Lingkup Lab dan LSPro
BOGOR — Dalam upaya meningkatkan standar mutu dan kualitas pertanian, Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Papua Barat mengutus salah seorang stafnya untuk mengikuti Pelatihan Rantai Nilai Komoditas Mutu Benih. Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, mulai Selasa (29/9/2026) hingga Kamis (1/10/2026) ini, diselenggarakan di dua lokasi utama, yakni Aula Cikeumeuh di Bogor dan kawasan fasilitas BRMP Padi di Sukamandi. Keikutsertaan perwakilan BRMP Papua Barat ini merupakan langkah strategis, mengingat institusi tersebut tengah mematangkan rencana untuk menambah ruang lingkup laboratorium pengujian pada uji mutu benih padi, serta memperluas layanan Lembaga Sertifikasi Produk (LS Pro) di bidang sertifikasi benih padi.
Pada hari pertama pelatihan, peserta mendapatkan pembekalan materi yang berpusat di Aula Cikeumeuh, Bogor. Sesi ini menghadirkan pakar perbenihan dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Dr. Ir. Eni Widajati, M.S., yang memaparkan landasan keilmuan terkait mutu benih. Selain itu, tim ahli dari BRMP Padi turut memberikan pendalaman materi mengenai standar pengelolaan benih unggul sebagai bekal dasar yang kuat sebelum peserta melakukan observasi dan praktik kerja.
Memasuki hari kedua, kegiatan bergeser ke Sukamandi untuk kunjungan lapang sekaligus praktik langsung di fasilitas Seed Center BRMP Padi. Di lokasi ini, peserta tidak hanya sekadar mendengarkan penjelasan mengenai proses pengelolaan benih padi pascapanen, tetapi juga terjun langsung melakukan praktik. Peserta mempraktikkan langsung cara penggunaan mesin pembersih benih atau seed cleaner untuk menyortir benih yang sebelumnya telah dikeringkan di lantai jemur. Setelah benih dikemas ke dalam karung berkapasitas 50 kg, peserta juga melakukan simulasi peran sebagai Petugas Pengambil Contoh (PPC) untuk mengambil sampel benih di lapangan dengan teknik yang benar, dan dilanjutkan dengan praktik menganalisis sampel tersebut di laboratorium.
Terkait prosedur penyimpanan dan sertifikasi, peserta juga diedukasi bahwa benih yang telah dikemas harus disimpan di dalam gudang benih dengan kondisi suhu dan kelembapan yang terkontrol. Setiap karung diwajibkan memiliki label identitas yang memuat berbagai informasi krusial seperti tanggal panen, nomor batch, dan jenis varietas. Untuk mendapatkan sertifikat mutu, produsen harus mengajukan permohonan kepada lembaga sertifikasi berwenang seperti BPSB, LSSM, atau LS Pro. Lembaga tersebut kemudian akan mengutus PPC untuk mengambil sampel yang diserahkan ke laboratorium guna diuji sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI). Khusus untuk komoditas padi, pengujian mutu benih tersebut mencakup parameter kadar air, mutu fisik, serta daya kecambah.
Pada hari ketiga, pelatihan ditutup dengan simulasi alur kerja nyata di lapangan. Peserta yang dibagi ke dalam kelompok-kelompok beranggotakan sembilan orang diminta mempraktikkan proses penyusunan dokumen manajemen mutu secara utuh. Setiap kelompok berkolaborasi menyusun rangkaian dokumen yang meliputi dokumen administrasi dan regulasi, dokumen teknis lapangan, dokumen prosedur mutu dan instruksi kerja, hingga rancangan sertifikat mutu, label, serta kemasan.
Melalui pembekalan komprehensif dari teori hingga praktik langsung ini, staf utusan BRMP Papua Barat diharapkan mampu menyerap dan mengadopsi standar operasional tersebut guna mewujudkan penambahan ruang lingkup laboratorium pengujian dan LS Pro perbenihan di Papua Barat.