Sinergisitas Memperkuat Pengawalan Perbenihan Hingga Hilirisasi Pala Fakfak
Pala Fakfak merupakan komoditas perkebunan unggulan daerah yang telah dikenal karena memiliki karakter aroma khas dan kualitas fuli yang unggul. Untuk memastikan bahan tanam yang unggul, benih yang diproduksi harus bersumber dari tetua yang jelas dan memiliki genetik yang baik sehingga bahan tanam yang dihasilkan berkualitas dan memiliki produksi yang tinggi. Dengan demikian, penguatan dan pengawalan Pohon Induk Terpilih (PIT) pada Blok Penghasil Tinggi (BPT) Pala Papua/Pala Fakfak merupakan hal yang penting untuk diperhatikan semua stakeholder terkait sehingga benih yang dihasilkan terproses melalui tahapan standar produksi benih.
Setiap satker yang terlibat dalam kegiatan ini mempunyai peran masing-masing. BBPPTP Ambon merupakan satker yang bertanggung jawab dalam memproduksi benih untuk tahun 2026 sebanyak 145.000 batang untuk lahan seluas 1000ha. Sementara itu Dinas Provinsi dan Kabupaten memastikan CPCL , pemeliharaan dan perawatan Pohon Induk Terpilih pada Blok Penghasil Tinggi. Adapun BRMP Papua Barat mendapat amanah untuk mengawal verifikasi calon petani calon lahan/CPCL dan penyaluran bantuan pemerintah hingga sampai ke pengguna, baik petani maupun pelaku usaha.
Berkaitan dengan itu, Tim Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan BBPPTP Ambon, bersama Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian Papua Barat, Dinas TPH Bun (Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan) Papua Barat serta Dinas Perkebunan Kabupaten Fakfak melakukan evaluasi kelayakan sumber benih pala di Kabupaten Fakfak pada tanggal 3-4 Maret 2026. Tim evaluasi kelayakan sumber benih terdiri dari Jondri, SST (BBPPTP Ambon), Dr. Heri Benidiktur (Kepala Bidang Perkebunan Dinas TPH dan Bun Provinsi Papua Barat ), Widhi Asmoro Jati, ST, MT (Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Fakfak), dan Sostenes Konyep, SP (BRMP Papua Barat). Evaluasi yang dilakukan tidak hanya evaluasi administrasi tapi juga evaluasi teknis terkait kemurnian varietas, kesehatan tanaman, produktivitas hingga kepatuhan dalam penerapan standar teknis kebun benih. Saat ini, 8 BPT-PIT (Blok Penghasil Tinggi–Pohon Induk Terpilih) dipelihara secara intensif sebagai pusat sumber benih unggul pala Tomandin. Pohon-pohon induk tersebut mendapatkan perlakuan intensifikasi, mulai dari pemupukan rutin setiap tiga bulan, pengendalian hama dan penyakit terpadu, hingga monitoring produktivitas secara berkala oleh tim teknis bersama petani.
Hasil evaluasi secara umum yang diperoleh adalah: pentingnya penjarangan cabang, pengaturan jarak tanam, dan sanitasi. Pemangkasan berkala penting untuk dilakukan sehingga tanaman tumbuh secara optimal dan kualitas buah tetap terjaga. Dinas Perkebunan telah melakukan langkah langkah antara lain: pemupukan, pengendalian hama penyakit tanaman yang tentunya dibantu petani dan penyuluh pertanian. Ke depannya diharapkan agar sinergisitas ini tetap terbina demi menjaga pala Fakfak sebagai motor penggerak perekonomian daerah. (Sostenes)