BRMP Papua Barat Hadiri Rilis Indikator Penting BPS: Soroti Dinamika Nilai Tukar Petani Maret 2026
MANOKWARI – BRMP Papua Barat turut berpartisipasi dalam acara Press Release Indikator Penting Papua Barat yang diselenggarakan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Papua Barat. Bertempat di Aula BPS Provinsi Papua Barat pada Rabu, 1 April 2026, acara ini juga diikuti oleh perwakilan berbagai instansi pusat dan daerah lainnya, serta awak media.
Kehadiran BRMP Papua Barat dalam agenda bulanan yang dipimpin oleh Kepala BPS Provinsi Papua Barat, Ir. Merry, MP ini merupakan bentuk sinergi lintas instansi dalam memantau kondisi terkini perekonomian daerah. Acara ini turut dihadiri oleh Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda Papua Barat, Melkias Werinussa, S.E., M.H. Dalam sambutannya, Melkias Werinussa memberikan arahan yang sejalan dengan visi berbagai instansi yang hadir, termasuk BRMP. "Data statistik sangat penting dan menjadi kompas utama kita untuk membangun Papua Barat yang bermartabat dan bermandiri," tegasnya.
Melalui rilis ini, BRMP Papua Barat mencatat lima indikator makro ekonomi dan sosial strategis yang dipaparkan oleh BPS, meliputi: (1) Perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK)/Inflasi bulan Maret 2026; (2) Perkembangan Nilai Tukar Petani (NTP) bulan Maret 2026; (3) Perkembangan Ekspor dan Impor bulan Februari 2026; (4) Perkembangan Pariwisata bulan Februari 2026; serta (5) Perkembangan Transportasi Udara bulan Februari 2026.
Bagi BRMP Papua Barat, indikator Nilai Tukar Petani (NTP) menjadi salah satu perhatian utama dalam rilis kali ini. BPS melaporkan bahwa pada bulan Maret 2026, NTP Provinsi Papua Barat tercatat sebesar 101,61, yang berarti mengalami penurunan tipis 0,06 persen dibandingkan periode Februari 2026. Kepala BPS Papua Barat, Ir. Merry, menguraikan kepada para peserta bahwa penurunan NTP ini dipicu oleh beban biaya yang ditanggung petani meningkat lebih cepat dibandingkan pedapatan dari hasil panen mereka. Pertumbuhan tertinggi terjadi pada subsektor tanaman hortikultura dengan kenaikan NTP sebesar 1,59 persen. Adapun subsektor tanaman perkebunan rakyat, khususnya komoditas kakao, mengalami defisit yang cukup signifikan dengan nilai -3,78 persen.
Meski daya beli petani secara umum sedikit tertekan, rilis tersebut juga mengungkap kabar baik dari sisi operasional usaha tani. Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) Papua Barat pada Maret 2026 berada di angka 107,61, atau naik sebesar 0,36 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Angka ini menegaskan bahwa jika pengeluaran konsumsi rumah tangga tidak dimasukkan, sektor usaha pertanian di Papua Barat sejatinya masih mencetak margin yang positif.
Dengan mengikuti kegiatan pemaparan data yang diselenggarakan oleh BPS ini, BRMP Papua Barat memiliki landasan data yang faktual dan mutakhir guna mendukung penyusunan program kerja, riset, maupun rekomendasi kebijakan strategis ke depannya.