Pelatihan Pemanfaatan Sampah Organik sebagai Media Tanam
Pelatihan Pemanfaatan Sampah Organik sebagai Media Tanam
MANOKWARI – Dalam upaya mendorong kemandirian pangan dan pelestarian lingkungan, Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Papua Barat menyelenggarakan pelatihan inovatif mengenai pemanfaatan sampah organik sebagai media tanam. Kegiatan ini berlangsung pada Rabu, 8 April 2026, bertempat di area pekarangan BRMP Papua Barat, dan materi diberikan langsung oleh Kepala BRMP Papua Barat, Dr. Abdul Syukur Syarif, S.P., M.P. Pelatihan ini dihadiri oleh para tenaga teknis BRMP serta sejumlah penyuluh pertanian yang diharapkan menjadi perpanjangan tangan dalam menyosialisasikan metode ini kepada masyarakat luas.
Metode yang diajarkan dalam pelatihan ini merupakan hasil dari uji coba mandiri yang dilakukan oleh Kepala BRMP Papua Barat selama bertahun-tahun. Inti dari teknik ini adalah mengubah limbah tumbuhan—seperti rumput, daun, ranting kecil, hingga sisa buah—menjadi media tanam produktif tanpa harus menunggu proses pengomposan konvensional di luar wadah.
Peserta pelatihan diajarkan langkah-langkah sistematis untuk menyusun media tanam di dalam polibag:
- Lapisan Dasar: Masukkan sampah organik kasar seperti ranting kecil dan daun kering ke dasar polibag hingga mengisi 30% volume. Tekan hingga benar-benar padat.
- Lapisan Tengah: Masukkan campuran sampah organik lainnya di atas lapisan dasar. Proses pemadatan harus terus dilakukan hingga volume polibag terisi sekitar 80–90%. Sampah harus sangat padat untuk memicu proses pengomposan alami.
- Lapisan Atas: Tambahkan lapisan kompos atau tanah subur (top soil A) setinggi 5–10 cm sebagai media awal pertumbuhan akar.
Banyak yang khawatir panas dari proses dekomposisi sampah akan membunuh akar tanaman. Namun, metode ini aman karena polibag yang digunakan memiliki lubang-lubang sirkulasi di sekelilingnya. Lubang-lubang ini berfungsi sebagai saluran keluar bagi suhu panas yang ditimbulkan oleh proses pengomposan di bawahnya, sehingga akar tanaman di lapisan atas tetap aman.
Media tanam ini dirancang untuk penggunaan jangka panjang dengan siklus penanaman yang taktis.
- Siklus Pertama: Disarankan menanam tanaman berakar pendek, seperti bawang merah, yang dapat memanfaatkan lapisan atas (top soil) selagi sampah di bawahnya berproses.
- Siklus Kedua: Setelah panen pertama, sampah organik akan mengalami penyusutan. Sampah ranting dan daun menyusut sekitar 50%, sementara sampah dari buah bisa menyusut hingga 70% (menyisakan 30% volume awal). Media ini kini siap diganti dengan tanaman berakar panjang seperti cabai atau terong. Apabila pada siklus penanaman kedua volume media di dalam polibag dirasa sudah terlalu banyak menyusut atau kurang, kompos yang sudah jadi dapat ditambahkan di bagian atas sesuai dengan kebutuhan tanaman.
Setelah melewati dua siklus masa tanam tersebut, material awal di dalam polibag telah berubah sepenuhnya menjadi kompos berkualitas tinggi. Kompos ini kemudian bisa difungsikan kembali sebagai lapisan teratas (top soil) untuk pembuatan media tanam polibag dari sampah organik yang baru.
Melalui pelatihan ini, Kepala BRMP Papua Barat berharap teknik tersebut dapat segera diadaptasi di skala rumah tangga.
"Dengan memanfaatkan sampah organik di sekitar kita, kita tidak hanya mendapatkan media tanam gratis yang subur, tetapi juga berkontribusi langsung dalam mengurangi timbulan sampah rumah tangga dan lingkungan," ujar beliau di sela-sela kegiatan.
Diharapkan, para penyuluh pertanian yang hadir dapat segera menyebarkan ilmu ini kepada kelompok tani dan masyarakat di wilayah binaan masing-masing guna mewujudkan pertanian yang modern, efisien, dan ramah lingkungan di Papua Barat.