Kawal Kualitas Komoditas Unggulan, BRMP Papua Barat Gelar Monev Perbenihan Pala Tomandin di Fakfak
FAKFAK — Dalam upaya menjaga mutu dan kualitas komoditas perkebunan andalan daerah, Balai Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Papua Barat sukses melaksanakan kegiatan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Perbenihan Pala pada Kamis (10/9/2026). Kegiatan ini merupakan langkah krusial untuk memastikan ketersediaan bibit pala berkualitas prima sebelum disalurkan kepada para petani secara luas.
Pelaksanaan monev ini diwarnai dengan semangat kolaborasi. Sebelum turun ke lapangan, tim BRMP Papua Barat terlebih dahulu melakukan koordinasi strategis bersama Dinas Perkebunan Kabupaten Fakfak dan Balai Besar Perbenihan dan Perlindungan Tanaman Perkebunan (BBPPTP) Ambon. Sinergitas lintas instansi ini bertujuan untuk menyamakan persepsi dan mengawal program perbenihan secara komprehensif dari hulu hingga hilir.
Usai koordinasi, tim gabungan langsung bergerak menuju lokasi nursery (pembibitan) milik CV Prima Karya yang terletak di Kampung Kayu Merah, Distrik Fakfak Tengah. Peninjauan lapangan ini secara khusus difokuskan pada pengawasan langsung terhadap progres pekerjaan "Produksi Benih Pala Sampai Siap Salur Wilayah Kabupaten Fakfak".
Di lokasi pembibitan, tim memonitor hamparan benih Pala Tomandin, yang selama ini dikenal sebagai varietas Pala Fakfak Unggul bernilai ekonomi tinggi. Skala pembibitan di lokasi tersebut terbilang masif, mencakup 8 blok lahan pembesaran dengan total populasi bibit mencapai 145.000 pohon.
Meski menunjukkan potensi penyediaan benih yang besar, proses monitoring mendapati realita kondisi riil di lapangan. Tim gabungan mencatat sejumlah kendala agronomis yang memerlukan perhatian dan penanganan taktis lebih lanjut, di antaranya:
1) Pertumbuhan Tidak Seragam: Tingkat pertumbuhan tanaman atau tinggi bibit antar-blok terpantau belum merata.
2) Indikasi Serangan Hama: Ditemukan beberapa bibit tanaman yang kondisi daunnya mengering dan berlubang, yang memicu penurunan kualitas fisik tanaman akibat serangan hama.
3) Kendala Syarat Sertifikasi: Terdapat keterlambatan penanaman di beberapa blok. Akibatnya, pada saat jadwal monitoring dilakukan, tinggi bibit di blok tersebut belum memenuhi standar minimal yang diwajibkan untuk lolos proses sertifikasi benih.
Temuan-temuan dari kegiatan monitoring ini akan menjadi bahan evaluasi yang sangat berharga. Tindak lanjut berupa mitigasi teknis dan penanganan hama diharapkan dapat segera diaplikasikan oleh pihak pengelola nursery. Langkah perbaikan ini mutlak diperlukan agar 145 ribu bibit Pala Tomandin tersebut nantinya dapat mencapai standar mutu sertifikasi yang ketat, siap salur, dan pada akhirnya mampu mendongkrak produktivitas perkebunan pala di Kabupaten Fakfak.